Tuesday, April 30, 2019

Sinopsis When Time Stops Episode 1 Part 1


All content from KBS World


Hari sudah malam tapi kota masih sibuk. Diberitakan kalo lukisan pemandangan Lee Jeong yang banyak berspekulasi mungkin ada di suatu tempat. Lukisan itu akan dibawa ke Korea untuk pertama kalinya. Lukisan itu dibawa ke Perancis dengan ajaran Budha dari Jikji selama Byeongin-yangyo.

*Jikji: Antology of Great Buddhist Priests
*Byeongin-yangyo: Kampanye Perancis melawan Korea

Lukisan itu sudah dikonfirmasi tersimpan di salah satu museum terkenal di Perancis.


Pengungkapan lukisan itu oleh pers Korea terus dihilangkan oleh tekanan pejabat museum di Perancis. Jadi lukisan itu belum diketahui oleh publik. Pemerintah dan Administrasi Warisan Budaya bertekad untuk membujuk mereka, dan akan tiba di tanah airnya sekitar 150 tahun akan teeungkap ke publik. 

Seorang pria duduk di lobi hotel mendengarkan berita itu melalui ponselnya sambil mimum.


Beberapa mobil masuk ke area parkir. Seorang pria asing keluar sari salah satu mobil bersama seorang penerjemah. Ia di sambut oleh seorang pria yang sudah menunggunya. 

Pria itu mengaku nggak tahu kenapa dia harus membawa itu ke sana. Wanita itupun menerjemahkan apa yang dikatakan pria asing itu ke dalam bahasa Korea.


Beberapa petugas menghampiri mobil paling belakang dan mengambil lukisan itu. Pria asing itu marah. Ia melarang mereka menyentuh apapun sebelum dia memberi ijin. Mereka pun mundur. 

Pria itu berpikir kalo Korea kurang menghargai lukisan itu. Pria Korea yang menyambut pria asing itu meminta maaf. Ia mempersilakan pria asing itu untuk masuk.



Seorang pegawai pria dan wanita merasa kesal dengan pria asing itu yang dianggapnya pencuri. Mereks lalu menyusul rekan-rekannya.


Lukisan itu akan dipamerkan. Beberapa orang sudah menunggu untuk melihatnya.


Pria Korea meminta penerjemah untuk menyampaikan ke pria asing itu agar tersenyum ramah saat di atas panggung.


Pria yang tadi di lobi menaiki tangga berjalan dengan tenangnya.


Pria itu sampai di tempat. Ia langsung disambut dan berdiri di atas panggung dan memperkenalkan Direktur Museum De Louvre Jean Gibbon pada tahap ini. Pria asing itupun masuk. Ia melangkah ke atas panggung dan menyaĺami pria Korea itu.


Pria Korea itu kembali berbicara dan akan memulai acara pembukaan lukisan Landscape Lee Jeong. Dan tak lupa berterima kasih pada Jeon Gibbon yang banyak berkontribusi atas kesempatan itu. Dan saat tirai dibuka ternyata nggak ada apa-apa dibaliknya.


Semua orang terkejut. Para wartawan mendekat dan memotret. Pria asing itu nggak habis pikir, apa yang terjadi? Tim keamanan langsung bergerak keluar.

Flashback...


Pria itu menyampaikan akan memperkenalkan lukisan itu untuk pertama kalinya. Ia mulai menghitung, 1, 2, 3. Dan tepat saat pegawai itu hendak membuka tirainya mendadak waktu berhenti. Semua orang membeku.



Pria yang tadi ada di lobi membuka pintu. Ia masuk dengan langkah santai. Bahkan sempat-sempatnya ngambil makanan orang yang dilewatinya dan memakannya. Sambil jalan dia memakai sarung tangannya. Ia melihat lukisan itu dan tersenyum. 

Ia membuka tirainya dan tampaklah sebuah lukisan pemandangan. Pada lukisan itu ia mengucapkan selamat datang di rumah setelah waktu yang lama.


Nggak lama kemudian pria itu keluar dan berjalan dengan santainya. Bahkan semua orang yang ia lewati di tangga berjalan masih membeku.


Dia sampai di jalan. Semua orang juga masih membatu. Pria itu dengan santainya ngambil lolipop dan memakannya. Pria itu bernama Joon Woo. Ia menjentikkan jarinya dan seketika orang-orang bisa gerak lagi.

Flashback end...



Seorang kakek melihat berita tentang hilangnya lukisan itu di tv. Joon Woo menghampirinya dan meletakkannya di samping tv. Kakek itu bertanya gimana Joon Woo melakukannya tanpa jejak setiap waktu? Joon Woo tersenyum. Rahasia. Kakek menyuruh Joon Woo untuk hati-hati. Monyet aja bisa jatuh dari pohon. 

Joon Woo mengingatkan kalo dia bukan monyet. Kakek merasa kalo akan butuh waktu lama untuk membawa lukisan itu ke dunia lagi. Joon Woo berpikir kalo lebih baik menyimpannya di tanah air. Kakek mengaku nggak tahu. Gimanapun akan butuh waktu lama buat meletakkannya di tempat asalnya.


Joon Woo mengiyakan. Ia bangkit dan menghampiri lukisan itu. Dia meminta kakek itu untuk merawatnya dengan baik. Kakek ngerti.


Joon Woo sudah mau pergi. Dia melihat ada air. Nggak tahu apa itu air hujan apa air apa tapi yang jelas atapnya bocor. Joon Woo memints kakek itu untuk memperbaikinya. Kakek mengiyakan. Dia nyuruh Joon Woo untuk pergi. Kontraknya toh sudah berakhir. 

Joon Woo bertanya apa kakek akan menaikkan sewa sekarang? Kakek bangkit dan bilang kalo Joon Woo ngerepotin. Dia nyuruh Joon Woo buat keluar aja. Dia akan menggunakan ruangan itu untuk penyimpanan.


Joon Woo kesal. Tuan tanah macam apa yang nggak tanggung jawab? Kakek makin kesal. Dia membentak Joon Woo. Kalo merasa bersalah keluar sana! Joon Woo kaget kakek membentaknya. Dia sampai terpaku.


Tiba-tiba kakek tertawa. Dia hanya terlihat seperti tuan tanah. Joon Woo menghela nafas. Harusnya dia nggak bikang gitu. Dia lalu berbalim dan pergi. Hidup dalam kesedihan bagi para tunawisma. Senyum kakek langsung hilang saat Joon Woo hilang. Ia merasa kalo watunya telah tiba.


Di sebuah ruang yang gelap. Tiba-tiba ponselnya Sun Ah bunyi. Sun A yang masih tidur melihat ponselnya dan tahu-tahu jatuh dari tempat tidur. Sun A bangkit dan mematikan alarm.


Dia lalu ke kamar mandi dan menggosok gigi. Di depannya ada beberapa catatan untuk hari ini. 1: Humanoid Deliver Day ke 14 2: Telpon kaki babi 3: Bayar tagihan utilitas.


Sun Ah keluar dan menghirup udara pagi. Ia mengambil helmnya lalu pergi. Dia menuruni tangga dengan penuh semangat. Lah, tangganya banyak amat, ya??


Sun Ah memakai helmnya dan menaiki motornya ia sampai di sebuah toko dan langsung kebagian mengirimkan barang dari toko itu. Hari masih sangat pagi. Sun Ah sampai di tempat tujuan. Ia memarkir motornya dan mengambil barang yang ia bawa. Ia masuk ke sebuah rumah susun dan meletakkan tas itu ke setiap pintu. Habis itu Sun Ah kembali ke motornya dan mengendarainya dengan senyum lebar.


Sun Ah sudah selesai bekerja. Dia kembali ke kamarnya dan langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Tiba-tiba dia membuka matanya dan buru-buru bangkit. Sun Ahn menghadap laptopnya di meja. Ia menggerakkan mousenya dan klik. 

Sun Ah membuka matanya dan kecewa. Sedetik kemudian ponselnya bunyi. Ia mengangkatnya dengan ogah-ogahan. Sebenarnya Sun Ah malas mengangkatnya. Tapi toh dia nggak bisa melakukannya. Ia berpura-pura ramah dan mengangkatnya.


Kali ini Sun Ah bekerja sebagai anak ayam di sebuah restoran ayam. Ia menari dengan penuh energik. Nggak jauh darinya ada seorang wanita cantik yang membagikan brosur ke setiap orang yang lewat.


Habis itu Sun ah juga bekerja sebagai pelayan. Saat ia tengah menyuguhkan pesanan ada seorang wanita yang menawarinya pekerjaan di tokonya. 

Sun Ah mengatakan akan mencobanya. Wanita itu senang mendengarnya. Sun Ah mempersilakan mereka untuk menikmati makanannya.


Wanita yang tadi membagikan brosur menyindir apa Sun ah barusan dibina oleh pemilik toko roti? Sun Ah sesumbar kalo dia memang selalu sepopuler itu. Wanita itu mengiyakan. Ia menyuruh sun Ah untuk memeriksa pembayarannya. 

Sun Ah mengambil ponselnya dan memeriksa rekeningnya. Uangnya sudah nambah. Wanita itu juga memberi bonus buat Sun Ah atas kerja kerasnya bulan ini. Sun Ah menerimanya dan berterima kasih pada atasannya. 

Sun Ah membuka amplop bonusnya dan memuji kalo temannya memang yang terbaik. Wanita itu meminta Sun Ah untuk hemat. Sun Ah mengangguk mengiyakan.


Sun Ah pulang sambil menghitung uangnya di ponselnya. Tiba-tiba ada panggilan masuk. Panggilan dari orang yang ia hindari. Bikin mood-nya jadi rusak. Tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari atas, tuan tanah! Ia menanyakan kenapa Sun Ah nggak mengangkat telponnya? Ia sempat berpikir kalo Sun Ah membawa lari uangnya. Sun Ah tersenyum nggak enak.


Mereka duduk berdua di atap. Sun Ah memanggilnya penyewa. Pria itu menyindir kalo Sun Ah tahu bulan itu hari apa, kan? Sun Ah mengiyakan. Dia menyampaikan kalo dia akan pindah. Sun Ah mengambil ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening pria itu.


Pria itu memeriksa rekeningnya. Sudah terkirim. Pria itu menyindir kalo pasti melelahkan buat Sun Ah menghasilkan uang untuk membayar bunga. Pria itu menanyakan kapan Sun Ah melunasi pembayaran pokoknya. Kenapa Sun Ah nggak menyerahkan bangunan itu padanya dan... . 

Sun Ah menolak. Dia janji akan membayarnya saat waktunya tiba. Dengan sopan ia menyuruh pria itu untuk kembali karena dia sedikit lelah sekarang.


Pria itu mengiyakan. Ia memberitahu tentang kebijakan pemerintah baru menaikkan suku bunga. Pinjaman ayah Sun Ah datang dengan suku bunga mengambang. Ia menghitungnya dan hasilnya satu juta sebulan. Murah, kan? Sun Ah terkejut mendengarnya. Satu juta won? Apa itu lelucon? 

Pria itu meminta agar Sun Ah mematuhi hukum. Dia saja selaku korban baik-baik saja. Dia akan memberi Sun Ah waktu seminggu. Mulai bulan depan Sun Ah harus membayar semua pinjamannya sekaligus. Dia bisa melakukannya, kan?


Sun Ah merasa keberatan. Pria itu memberi solusi agar Sun Ah menyerahkan gedung itu padanya. Sun Ah nggak menjawab. Pria itu bangkit. Ia berbalik. Lupa memberitahu kalo lampu kamar mandinya rusak. Ia meminta Sun Ah untuk memperbaikinya besok. Oke, tuan tanah?


Sun Ah pulang dengan perasaan marah. B*jingan itu! Ia membuka lacinya dan mengambil sebuah buku. Apartemen 101, Deposit 20 juta won perbulan 550 ribu won tanggal 15 tiap bulan lebih awal. Ia membalik halamannya, apartemen 201, lantai 2 deposit 20 juta won perbulan 600 ribu won tanggal 15 tiap bulan lebih awal. 

Sun Ah lalu melihat kalendernya. Tanggal 15 terima uang sewa. Tanggal 19 bayar tagihan. Mendadak wajahnya jadi sedih. Ia lalu bertekad untuk menaikkan 100 ribu won untuk masing-masing penyewa. Sun Ah yakin kalo kali ini dia bakal jadi tuan tanah yang kejam.


Hari sudah pagi. Sun Ah kembali menjalani aktivitasnya. Ia mengendarai motornya dan berhenti di depan sebuah rumah. Sun ah mengetuk pintu rumah itu dengan percaya diri. Seorang pria membukakan dan bertanya dengan nggak ramah. 

Nyali Sun Ah jadi ciut. Dia benar-benar nggak bisa mengatakannya. Pria itu mendesak Sun ah agar segera mengatakan maksud kedatangannya. Dia sibuk. Sun Ah malah nyuruh pria itu untuk kembali kerja kalo memang dia sibuk. 

Sun Ah akan... . Belum juga Sun Ah menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah menutup pintunya. Hadeuh, Sun Ah mengaku sangat takut tadi.


Sun Ah mendatangi penyewa kedua. Kali ini seorang ahjumma. Dia manggil nama Sun Ah dengan nada memelas. Dia mengaku nggak makan sejak kemarin. Dia harus gimana? 

Sun Ah jadi nggak bisa mengatakan maksud kedatangannya. Padahal ahjumma itu hanya berpura-pura. Dia lalu masuk ke rumahnya dan ninggalin Sun Ah. Sun Ah memanggil ahjumma itu tapi nggak ditanggapi.



Seorang pria keluar dari rumahnya. Dia mendengar suara Sun Ah dan melarikan diri. Sun Ah melihatnya dan mengejarnya. Choi In Seop! Tunggu! In Seop sudah di jalan. Dia bilang ke Sun Ah kalo dia mau pergi kerja. 

Sun Ah nggak bisa mengejarnya. Sun Ah memberitahu kalo dia menaikkan uang sewanya 100 ribu won. In Seop juga nggak menggubris. Sun Ah jadi kesal sendiri.


Sun Ah datang ke sebuah agen penjualan rumah. Wanita itu membujuk Sun Ah agar mau menjual rumahnya. Sun Ah menolak. Kalo dia menjualnya sekarang ia akan dapat harga murah. 

Sun Ah dengar area itu akan segera dikembangkan. Ia hanya perlu menderita sedikit lagi. Wanita itu hanya bisa menghela nafas. Ia mengiyakan kalo mereka akan melakukannya tapi itu akan butuh waktu lama. Bahkan ada kemungkinan kalo mereka nggak akan melakukannya.


Sun Ah yakin kalo itu akan terjadi. Dia bertanya pada wanita itu apa nggak ada yang tertarik dengan ruang bawah tanah? Wanita itu tertawa dan menyindir mana ada yang mau tinggal di situ? Sun Ah bengong. 

Wanita itu menegaskan kalo akhir-akhir ini pasar untuk area itu lagi nggak bagus. Bahkan ada rumor kalo area itu nggak jadi dikembangkan.



Sun Ah meminta wanita itu untuk merekomendasikan ruang bawah tanahnya pada pelanggannya. Ia akan menegoisasikan harga sewanya. Sun Ah menyodorkan sebotol minuman pada wanita itu. 

Mendadak wanita itu berubah jadi menurut. Dia janji akan menunjukkan ruang bawah tanah Sun ah terlebih dulu kalo ada yang mencari tempat sewa. Sun Ah tersenyum dan berterima kasih. Dia lalu pamit.


Wanita itu langsung nelpon seseorang dan memberitahu kalo dia sudah bilang ke Sun Ah kalo area itu mungkin nggak jadi dikembangkan seperti yang disuruh. Dia juga memberitahu kalo Sun Ah ingin menyewakan ruang bawah tanahnya. Ia merasa kalo itu nggak bisa disewakan dengan mudah.


Ternyata orang yang ditelpon adalah penyewa yang waktu itu. Dia janji bakalan ngasih imbalan buat wanita itu. Dia janji kalo itu nggak akan lama.


Di dekat pria itu ada seorang wanita yang tampak angkuh. Wanita itu mengingatkan kalo nggak banyak waktu untuk pengembangan ulang. Apa pria itu bisa melakukannya tepat waktu? Pria itu mengiyakan. Dia adalah Park Soo Kwang. Wanita itu tersenyum dan mengaku percaya pada Soo Kwang. Dia menyuruh Soo Kwang untuk melanjutkannya tanpa membuat kesalahan.


Joon Woo datang ke agen penjualan rumah. Dia mau menyewa rumah. Wanita itu sesumbar kalo ada banyak rumah di tempatnya. Semua menghadap ke selatan dengan banyak cahaya matahari dan airnya bagus. Joon Woo mengaku nggak suka cahaya matahari. Dia mau cari ruang bawah tanah. Wanita itu heran. Ruang bawah tanah?


Ternyata Sun Ah masih belum pergi. Dia mengintip dari luar begitu dengar Joon Woo mencari ruang bawah tanah. Dia langsung masuk dan bilang kalo ada ruang bawah tanah dan tuan tanahnya juga baik. Di gedungnya.


Joon Woo mengikuti Sun Ah pulang. Sun Ah buru-buru mengambil kertas yang tertempel di depan pagar tanpa sepengetahuan Joon Wo. Sewa Deposit 5 juta won, perbulan 500 ribu won. Sun Ah menyimpannya ke dalam saku celananya dan mempersilakan Joon Woo untuk masuk.


Mereka sampai di tempat. Ruangannya sangat pengap. Sun Ah menanyakan pendapat Joon Woo. Ia meyakinkan kalo Joon Woo nggak akan menemukan yang lebih luas dari miliknya. Joon Woo melihat dindingnya dan menanyakan apa Sun Ah akan memasang wallpaper? Sun Ah rasa nggak perlu karena belum lama dia sudah pasang... . Sun Ah nggak jadi mekanjutkannya saat dia melihat wallpaper yang sudah nggak layak. Dia lalu bilang akan melakukannya.



Sun Ah penasaran, kenapa mesti ruang bawah tanah? Joon Woo mengaku nggak suka sinar matahari yang masuk. Pekerjaannya akan lebih baik tanpa matahari. Sun Ah mengiyakan. Dia ngerti. Dia bertanya-tanya pekerjaan apa yang tanpa sinar matahari? Dia merasa kalo Joon Woo nggak  kelihatan seperti nggak punya uang.


Sun Ah membayangkan kalo Joon Woo adalah seorang bos mafia.


Sun Ah rasa itu mungkin. Atau... . Sun Ah membayangkan kalo Joon Woo adalah seorang pembunuh bayaran.


Nggak mungkin. Sun Ah nggak peduli Joon Woo bos mafia atau pembunuh bayaran. Yang penting dia bayar sewa perbulan padanya.



Joon Woo manggil Sun Ah dan menyadarkannya dari lamunanya. Joo Woo bilang kalo dia akan mengambilnya. Sun Ah memintanya untuk membuat kontraknya. Dia memberitahu kalo uang mukanya $10,000. 

Joon Woo nggak bilang apa-apa dan hanya menatap Sun Ah. Sun Ah jadi nggak nyaman. Dia menurunkannya jadi $700, $659. Itu adalah penawaran terbaik. Joon Woo nggak akan mendapatkan yang seperti itu di area itu. Joon Woo tetap nggak bilang apa-apa. Sun Ah menurunkannya jadi $600 perbulan.


Joon Woo mengiyakan. Dia lalu pergi. Sun ah mengejarnya dan menunkannya jadi $5,000 dan $600 perbulan. Joon Woo tetap diam. Sun Ah menarik tangan Joon Woo dan kembali menurunkannya jadi $5,000 & $550 perbulan. Joon Woo bilang kalo dia akan melihat-lihat dulu.


Sun Ah mengejar Joon Woo dan menarik tangannya lagi. Penawaran terakhir. $5,000 & $500 perbulan. Ia nggak bisa menurunkannya lagi. Joon Woo mengiyakan. Ia akan membayar uang mukanya. Joon woo lalu pergi ninggalin Sun Ah. Sun Ah kesal. Dasar pelit!

Bersambung...

Artikel Terkait

Sinopsis When Time Stops Episode 1 Part 1
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email