Friday, August 16, 2019

Sinopsis Moment at 18 episode 2 part 4


All content from jtbc




Hyuk klik videonya dulu sebelum mulai bacanya. 

Hwi Young datang ke tempat les dan ternyata sudah ditunggu sama Jun Woo disana. Keduanya mengobrol di atap.

Hwi Young merasa bagus Jun Woo datang. Ia harus mengakhirinya dengan baik meski nggak akan ketemu lagi sama guru Son.

Jun Woo mengingatkan tentang apa yang ia katakan sebelumnya tentang b*randalan kayak Hwi Young. Apa yang Hwi Ypung maksud dengan itu?


Hwi Young malah tersenyum dan menanyakan Jun Woo akan pindah ke sekolah mana? Jun Woo memberitahu kalo dia akan pindah ke Onyang karena ibunya kerja disana.

Hwi Young memberitahu kalo nggak ada yang istimewa dengan b*randalan kayak Jun Woo. Jun Woo bernafas. Tapi biarpun Jun Woo terus hidup, dia tetap nggak punya harapan. Dia juga akan baik-baik aja meski diinjak-injak.

Jun Woo hanya hidup karena dia dilahirkan bahkan nggak ada yang menyambutnya. Hanya karena dilahirkan, hanya karena dia nggak punya nyali buat menghilang.

Hwi Young tersenyum mengejek. Dia kasihan sama b*randalan kayak Jun Woo. Sumpah, kata-katanya Hwi Young nyakitin banget. Jahat ih.



Jun Woo menatap Hwi Young tajam lalu megusap lehernya. Gimana dengan Hwi Young sendiri? Apa Hwi Young nggak mengasihani diri sendiri?

Hwi Young kembali tersenyum. Kenapa dia harus begitu. Dia mengatakan kalo dia beda sama Jun Woo. Ia mau pergi lalu teringat satu hal. Jun Woo tetap akan pergi tapi kenapa ia harus melakukan itu pada Jun Woo?

Ia merasa kalo Jun Woo keterlaluan. Dia membuat hal yang nggak penting dan bukannya menghilang dengan tenang. Seolah bisa ngelakuin itu padanya.

Hwi Young memukul pelan dada Jun Woo dan jun Woonya hanya diam. Ia lalu menanyakan apa itu menjawab pertanyaan Jun Woo? Jun Woo nggak menjawab dan Hwi Youngpun pergi.



Jun Woo mengambil sepedanya yang ia parkir di depan minimarket. Bukannya menaikinya ia malah mendorongnya.

Ponselnya bunyi. Ibu bertanya apa dia sudah kemas-kemas. Kemasin aja seperlunya. Hari Minggu ibu akan mengunjunginya dan mengambil sisanya. Sore tadi ibu pergi ke sekolahnya. Sekolahnya tampak bagus.

Ibu meminta Jun Woo untuk melupakan semuanya saat datang kesana. Jun Woo hanya perlu fokus buat belajar. Ia harus masuk ke universitas yang bagus dan berhasil. Biar nanti bisa keremu sama ayahnya dan bikin ayah jadi bangga.



Suara Jun Woo bergetar nanyain ayahnya. Dimana ayah tinggalnya? Apa ibu masih berhubungan sama ayah?

Ibu tersenyum dan mengiyakan. Ayah Jun Woo tinggal di Pohang karena kerjaannya. Ibu bahkan bohong soal betapa ayah khawatir sama Jun Woo.

Jun Woo tahu kalo ibu bohong dan dia nggak mau dengar lagi. Ia bilang ke ibu kalo dia harus pergi. Sekarang ia dalam perjalanan menuju rumah.

Ibu masih ingin ngomong tapi Jun Woo malah sudah mematikan telponnya. Ia terdiam sesaat lalu menaiki sepedanya.

Jun Woo mengendarai sepedanya. Ih, lagunya sedih banget.


"Ibu, ibu kira aku nggak tahu diama ayah tinggal?"

Jun Woo berhenti di depan sebuah rumah lalu melihat ke atas.

"Aku tahu rumahnya. Sekarang aku berpikir untuk pergi dan mungkin peeasaanku lebih berani. Keberanian untuk melihatnya sekali lagi sebeum pergi. Orang yang membawaku ke dunia ini tanpa restu. Choi Myung Joon"



Jun Woo berjalan masuk. Ia menekan bel pintu. Seorang anak kecil membukakan pintu. Mulutnya penuh noda kecap. Dia bilang ke Jun Woo kalo dia belum selesai makan Jjajangmyeonnya. Seorang wanita di dalam nyuruh anak itu buat bilang ke Jun Woo kalo mereka akan mengeluarkan mangkuknya dalam 30 menit lagi.

Anak itu mengatakan apa yang disuruh ibunya lalu menutup pintu kembali.

Jun Woo nggak bisa apa-apa.


Seorang pria yang baru pulang masuk ke rumah itu. Dia menatap Jun Woo dan menanyakan apa yang bisa ia bantu?

Karena Jun Woo nggak menjawab, pria itupun mau masuk.

Jun Woo tiba-tiba bertanya apa pria itu nggak mengenalinya? Pria itu nggak ngerti dan bilang ke Jun Woo kalo dia salah rumah. Dia lalu masuk ninggalin Jun Woo.

Pria itu adalah ayah dari anak laki-laki tadi. Jun Woo hanya bisa nunduk lalu pergi.


Jun Woo melihat rumah itu lagi sesampainya di luar. Ia mengambil sepedanya lalu pergi.


Flashback...


Jun Woo kecil menggendong tas dan jalan sendirian. Dia bertanya pada setiap pria yang ia lewati. Apa dia Choi Myung Joon?

Jun Woo nggak nyerah. Dia jalan lagi dan nayain ke pria yang lain.


Akhirnya Jun Woo menemukannya saat ia sudah besar. Ayahnya duduk di sebelahnya saat ia sedang naik kereta.

"Aku selalu penasaraj apa yang harus aku ceritakan padamu kalo aku ketemu denganmu. Tapi..."



Jun Woo mengemasi barang-barangnya. Termasuk juga foto yang selama ini ada di mejanya.

Ponselnya bunyi. Ibu nelpon. Ia menanyakan apa Jun Woo sampai di rumah dengan selamat? Jun Woo mengiyakan dan bilang kalo dia lagi berbenah.

Mendadak ibu minta maaf soal yang sebelumnya. Jun Woo mengalihkan. Ia meyakinkan ibu kalo mulai sekarang ia akanberusaha lebih keras.

Ibu malah melarangnya. Saat Jun Woo sampai disana ia nggak perlu berusaha keras. Ibu senang-senang aja selama Jun Woo bersamanya. Ibu tersenyum dan menambahkan kalo para gasis disana sedang menanti buat melihat putra tampannya.

Ia menanyakan apa Jun Woo tahu temannya yang namanya Hye Yeong? Dia membuat lobak kimchi buat Jun Woo saat dia datang. Dan Seon Mi juga..



Jun Woo memotong lagi. Ia meminta maaf karena sudah mendapat masalah lagi. Kali ini ia ingin berusaha keras. Mata Jun Woo berkaca-kaca. Ih sedih banget kelihatannya.

Ibu menenangkan kalo itu bukan salahya Jun Woo. Itu karena mereka yang jahat. Mereka pikir Jun Woo penurut karena nggak tinggal sama ibunya. Ih, ibu juga ikut nangis.

Ujung-ujungnya ibu malah nyalahin diri sendiri. Harusnya ibu tetap di sisinya Jun Woo. Ibu nggak punya pilihan karena uang.

"Eomma, nangis lagi?"

"Enggak! Buat apa ibu nangis. Kalo ibu nangis artinya ibu kalah"

Ibu menasehati agar Jun Woo nggak kesal sama diri sendiri karena kabur dari tempat itu. Ia pindah karena ingin tinggal berama ibu. Ibu ngajak Jun Woo buat hidup bahagia disana. Ibu nangis dan ngaku lagi bahagia sekarang karena bisa tinggal bersama putranya. Bisa membuatkan sarapan buat Jun Woo tiap hari dan nyetrika seragam sekolahnya.

Jun Woo mengiyakan. Ibu berpesan agar Jun Woo tidur yang nyenyak. Jun Woo mengiyakan. Ia nutup telponnya dan benar-benar merasa sedih.


Jun Woo berdiri di atap dan menghela nafas panjang. Ia lalu duduk dan teringat apa yang pernah guru Oh katakan. Kalo namanya sekarang adalah si kabur.

"Aku si kabur. Kenapa aku terus kabur? Karena aku nggak peduli dengan hidupku?"

Ia lalu teringat peekataan Hwi Young yang mengasihaninya.

Di restoran ibu juga lagi nangis. Ia meminta maaf pada Jun Woo dan kembali nyalahin diri sendiri. Maaf, anak ibu.


Jun Woo ngambil ponselnya dan ngirim stiket kucing yang lagi ngintip.

"Jangan nangis, bu. Aku lihat kalo ibu lagi nangis"

Ibu jadi ketawa lihatnya. Ia lalu membalasnya dan membantah kalo lagi nangis. Justru ibu udah di tempat tidur sekarang.

"Ibuku belum dewasa dan muda. Tapi dia nggak kabur dariku. Meski saat itu dia masih sangat muda. Dia nggak kabur.


H-19 UAS

Guru Oh selesai membagikan nilai ulangan sama anak-anak. Kelihatannya nilainya pada turun. Pada nggak semangat gitu.

Guru Oh lalu ngumumin kalo Hwi Young ada di peringkat pertama di setiap mata pelajaran.

Anak-anak bertepuk tangan dan manggil-mangil namanya Hwi Young. Da Heen heran gimana Hwi Young bisa dapat nilai bagus.

Guru Oh manggil Hwi Young buat maju ke depan buat bilang sepatah dua patah kata.

Hwi Young bangkit dan maju ke depan. Dia berterima kasih pada teman-temannya. Ia hanya beruntung dan akan belajar lebih keras lagi. Ia ngajak semuanya buat berusaha lebih baik.

Guru Oh bertepuk tangan diikuti semua siswa.



Pintu tiba-tiba terbuka. Mata semua orang tertuju ke sana. Jun Woo masuk. Ia menatap Hwi Young tajam. Hwi Young kayak nggak suka gitu Jun Woo datang.

Soo Bin malah senyum. Jun Woo nggak jadi pindah?

Bersambung...

Artikel Terkait

Sinopsis Moment at 18 episode 2 part 4
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email