Friday, September 27, 2019

Sinopsis Vagabond episode 2 part 2


All conten from SBS





Lagi hujan. Gun datang ke rumah Hae Ri pakai payung. Dia ngetuk pintunya Hae Ri sambil manggil-manggil tapi nggak ada tanggapan dari Hae Ri.

Dia pindah ke samping dan manggil lagi. Tapi tetap nggak ada jawaban dari Hae Ri.

Kelamaan. Gun mau manjat dinding aja. Tahu-tahu ada yang nodongin senjata ke kepalanya Gun.

Gun berbalik dan melihat siapa orangnya. Hae Ri. Ia menduga kalo Hae Ri adalah bagian dari mereka.

Hae Ri nggak ngerti.

Gun nanyain siapa Hae Ri sebenarnya. Terdengar suara petir disertai kilat. Dia sama sekali nggak takut dan malah maju seolah menantang.

Hae Ri tertawa. Dia paham. Gun ngira kalo dia kerjasama sama teroris? Dah g*la apa? Dikiranya...

Gun bergerak dengan cepat dalam merebut senjata Hae Ri dan menodongkannya balik. Petir menyambar lagi. Gun nanyain di mana orang itu?

Hae Ri minta Gun buat mendengarkannya.

Gun kalut banget. Dia ngasih tahu Hae Ri kalo dia nggak lagi berpikiran jernih. Dia nyuruh Hae Ri buat ngomong atau kalo enggak dia bakal nembak kepalanya.

Hae Ri nggak takut. Dia nyuruh Gun buat nembak dia saat itu juga.

Gun terpancing. Dia beneran melakukannya. Lah, pistolnya kosong? Nggak ada pelurunya?

Hae Ri paham kalo Gun nggak bisa berpikir jernih, tapi beraninya nuduh dia jadi teroris.

Gun masih nggak percaya. Dia narik Hae Ri dan menyudutkannya ke tembok. Hae Ri mengingatkan kalo Gun akan dapat masalah. Dia minta agar di lepasin.



Gun mengikat Hae Ri di kursi dan menggeledah rumahnya. Rumahnya gelap amat ya. Hae Ri memberitahu kejahatan serius yang sedang Gun lakukan. Membobol masuk, penahanan nggak sah dan intimidasi.

Gun nggak peduli dan lanjut menggeledah. Dia membuka sebuah dompet dan nemuin foto kecil Hae Ri sama seorang pria. Mungkin ayahnya.

Gun lanjut membuka lemari dan ngambil sebuah kotak besar. Hae Ri melarang. Jangan buka.

Lah, Gun malah kayak di suruh. Ia membukanya dan menuang isinya. Pakaian dalam. Dasar m*sum! Sekarang bahlan pelecehan seksual.

Gun masih nggak peduli. Dia nemuin beberapa paspor. Masami Nagasawa, kewarganegaraan Jepang.

Gun ngambil sebuah dompet dan membukanya. Ada tanda pengenal Hae Ri sebagai BIN (Badan Intelijen Nasional).

Gun nunjukin itu ke Hae Ri. Hae Ri minta dilepaskan. Dia sudah mengingatkan kalo Gun akan dapat masalah. Dia mengeluhkan samarannya yang sudah terbongkar dan itu akan membuatnya kena hukuman. Hae Ri minta Gun melepaskannya.

Gun nggak percaya. Dia kembali menggeledah. Ada banyak properti kayak giti di set. Lah, Hae Ri nggak percaya.

Gun nawarin buat ngasih lihat punyanya. Dia CIA.

Hae Ri menekankan kalo dia adalah agen khusus BIN.

"Seberapa khusus kamu setelah diikat dan dilucuti senjatanya?"

Hae Ri ngasih tahu kalo dia bisa 3 bahasa. Dikiranya mereka di BIN cuman punya otot? Agen cerdas kayak dia lebih spesial. Dia nyuruh Gun buat meriksa informasinya.




Ponsel Hae Ri bunyi. M nelpon. Gun mengambilnya dan menanyakan siapa M? Hae Ri melarang Gun buat ngangkat. Kalo enggak dia bakal dipecat. Tapi dasar Gun. Dia malah mengangkatnya.

Itu adalah telpon dari ketua BIN. Dia ngasih tahu kalo Duta Besar O Jae Gwan ditahan pas tiba di Korea. Dia memuji kerja bagus Hae Ri.

Hae Ri sengaja menanyakan kapan dia bisa balik lagi ke Badan Intelijen Nasional? Lah ketuanya malah nyuruh Hae Ri buat nggak balik dulu. Semuanya lancar tanpa dia.

Hae Ri merasa kalo itu terlalu kejam. Ia mengingatkan kalo nggak ada yang menangani kasus Duta Besar sebaik dia.

Ketua mengingatkan kalo Hae Ri nggak kerja sendirian. Cuman orang b*doh doang yang nggak bisa menyelesaikan pekerjaan yang sudah hampir beres.

Hae Ri memberitahu kalo dia yang membereskannya. Orang lain cuman memborgolnya. Gimanapun juga dia nggak akan beli tiket pulang.

Ketua nyuruh Hae Ri buat tetap disana kalo dia nggak mau kena hukum.

Hae Ri mau protes tapi telponnya malah ditutup.

Hae Ri kesal. Dia lalu ngasih tunjuk Gun kalo dia jujur.


Gun meletakkan ponsel Hae Ri dan membuka ikatannya. Kakinya juga.

Hae Ri berdiri dan langsung menampar Gun. Impas. Meski dia yang rugi sebenarnya.

Hae Ri lalu merapikan barang-barangnya.


Sebuah mobil berhenti. Orang di dalamnya menyiapkan senjata yang diberi peredam.



Hae Ri ngasih minuman ke Gun dan menanyakan alasan kedatangannya larut malam gini.

Gun ngasih Hae Ri flasdisk. Dia nyuruh Hae Ri buat meriksa. Sebelum pesawat jatuh. Dia nyuruh Hae Ri buat mengingat b*debah itu. Katanya dia cerdas.

Hae Ri meletakkan cangkirnya dan ngasih tahu Gun kalo dia sibuk. Dia juga nggak hutang budi sama Gun.

Gun mengingatkan kalo Hae Ri juga bertanggung jawab. Dia ngasih lihat undangan ke Maroko. Ada nama Hae Ri disana srbagai penangging jawab.

Hae Ri santai. Itu cuman karena dia penanggung jawab. Gun membenarkan. Dia memohon agar Hae Ri membantunya.



Sudah nggak hujan lagi. Gun pulang. Entah apa yang dia dapat.

Mobil yang tadi berhenti nampak mencurigakan bagi Gun. Orang di dalamnya emang lagi mau menargetkan Gun.

Pelan-pelan Gun mendekat. Orang itu bersiap.

Tiba-tiba ada beberapa orang yang melintas.

Orang yang mau menembak Gun membatalkan niatnya dan pergi.

Gun masih menatapnya.



Hae Ri menonton video Hoon. Keceriaan anak-anak itu membuatnya nangis. Dia pingin nyerah aja tapi namanya sebagai penanggung jawab membuatnya nggak bisa mengabaikannya.

Hae Ri memakai earphone dan melihatnya lagi.

Pria di belakang Hoon nelpon sambil melihat jam tangannya. Dia berusaha buat fokus mendengarkannya.



Hae Ri nelpon temannya, Hwa Suk dan memintanya buat melihat video yang dia kirim lewat email. Hwa Suk penasaran. Video dewasa?

Hwa Suk pergi ke kafe dan melihat video itu disana.

Hae Ri minta Hwa Suk buat melihat pria yang lagi nelpon di belakang anak-anak dan nyari tahu apa yang dia omongin di telpon.

Hwa Suk melihatnya dan mengingatkan kalo itu akan butuh waktu buat dapat persetujuan.

Hae Ri mengaku nggak punya waktu. Dia meminta agar Hwa Suk menghapus sua jejak email dan menutup telponnya. Telponnya mahal.

Hwa Suk menurut. Dia mengunduh filenya dan menghapus emailnya.


Perdana menteri datang menemui presiden.

Presiden sendiri sedang ada tamu. Ia membaca sebuah dokumen yang sangat rahasia. Laporan Evaluasi Rencana F-X. Kandidat terkuat adalah F-70.

Perdana menteri tiba. Tapi karena ada tamu dia berniat buat nunggu di luar.

Presiden bilang nggak papa dan nyuruh perdana menteri buat duduk.

Perdana menteri masuk dan duduk.

Menteri Pertahanan Nasional mengatakan kalo F-70 dari Dynamic dianggal mengungguli milik Jhon dan Mark.

Sekretaeis Senior Urusan Sipil menanyakan opini publik. Apa menteri pertahanan bisa mengatasi pebolakan publik?

Menteri pertahanan mengingatkan kalo keputusan yang gegabah nggak bisa di buat untuk proyek jangka panjang.

Sekretaeis Senior mengingatkan tentang peringkat presiden yang turun drastis setelah jatuhnya pesawat. Masih mau diperburuk?

Menteri pertahanan mengatakan alasannya. Kalo sampai tersebar kabar nereka membuang satu triliun won ...

Presiden tiba-tiba menggebrak meja. Ia menanyakan ke menteri pertahanan untuk rencana F-X, uang yang telah dianggarkan sebanyak 11 triliun itu dari mana asalnya? Dari pajak. Apa yang akan ia lakukan kalo uang itu membuat mereka sedih dan bukannya membuat bahagia?

Menteri pertahanan meminta presiden untuk memikirkannya baik-baik sebelum memutuskan.

Presiden mengiyakan dan mempersilakan menteri pertahanan untuk pergi.

Menteri pertahanan dan sekretaris senior undur diri.

Perdana menteri bangkit dan pindah tempat duduk di dekat presiden.

Presiden mengaku nggak suka pada menteri pertahanan karena nggak memihaknya.

Perdana menteri menyarankan buat memecatnya.

Presiden merasa nggak bisa melakukannya. Waktunya nggak tepat.

Perdana menteri merasa kalo nggak ada waktu yang tepat.

Presiden merasa frustasi memikirkannya. Dia ngajak perdana menteri buat main go.

Bersambung...

Artikel Terkait

Sinopsis Vagabond episode 2 part 2
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email